5 September 2011

Tersesat di Mal Terbesar di Dunia

Interior Dubai Mall yang "pasaran"
Bagaimana rasanya berada di sebuah mal yang luasnya 50 kali lapangan sepakbola? Anda mungkin bisa tersesat dalam arti sesungguhnya karena bingung menentukan arah saat berada di pusat perbelanjaan yang sangat luas itu. Anda bisa pula “tersesat” karena begitu takjub dengan hal-hal spektakuler yang dihadirkan mal raksasa itu. Saya pernah mengalami kedua-duanya di Dubai Mall.

Saya mengunjungi Dubai Mall untuk pertama kalinya pada akhir 2008, saat pusat perbelanjaan itu masih soft opening. Ketika itu baru sekitar 600 toko yang sudah beroperasi, hanya separuh dari kapasitas penuh mal itu. Sebagian outlet masih ditutup papan triplek warna putih. Nampak tak ada yang istimewa dengan pusat perbelanjaan itu selain ukurannya yang raksasa. “Huh, mereka hanya membuatnya lebih besar”, keluh saya pada seorang rekan yang menemani saya jalan-jalan saat itu.

Pada kunjungan pertama itu, kami hanya menghabiskan waktu kurang dari 30 menit di Dubai Mall. Saya ingat persis, kami hanya melihat ice rink Dubai Mall yang katanya berstandar Olympiade. Tapi tak banyak yang bisa dinikmati karena belum ada seorangpun yang beraksi di arena ice rink. Sebabnya saya kurang tahu persis. Apa karena waktunya masih terlalu pagi hingga arena ice rink belum dibuka, atau memang belum dioperasikan karena mal itu baru soft opening

Saya perhatikan sebentar interior bangunan mal, terlihat tak ada yang istimewa. Menurut saya, interior Dubai Mall terlalu biasa. Kurang menunjang predikatnya sebagai mal terbesar di dunia. Kami segera meninggalkan mal itu karena kurang tertarik dengan penampilan interiornya. Apalagi sebagian outlet masih tertutup triplek putih, membuat penampilannya makin membosankan. Kami tidak tersesat dalam kunjungan pertama itu karena hanya mengitari area sekitar pintu masuk. Kunjungan pertama ke Dubai Mall rupanya agak mengecewakan.

Akuarium terbesar di dunia di Dubai Mall
 Sampai beberapa bulan kemudian, saya masih belum tertarik untuk kembali mengunjungi Dubai Mall. Apalagi, komentar beberapa teman yang telah mengunjungi Dubai Mall cenderung negatif. Intinya, mereka tidak suka dengan interiornya yang terlalu biasa. Ibn Batuta Mall atau Mall of Emirates lebih menarik, komentar mereka. Saya agak sepakat dengan pendapat itu.

Rasanya memang agak aneh karena banyak warga Dubai ternyata tak terlalu antusias dengan Dubai Mall. Padahal, menilik data-data mengenai mal ini, pasti mengundang decak kagum. Bayangkan, pusat perbelanjaan ini luasnya mencapai 74 hektar atau setara dengan 50 kali lapangan sepakbola. Ada lebih dari 1200 toko yang beroperasi, dijamin Anda tidak bisa melihat semuanya hanya dalam sekali kunjungan! Lokasinya juga sangat istimewa, ada di kaki menara Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Sangat menarik bukan, sesuatu yang terbesar dan tertinggi di dunia berada dalam satu lokasi.

Candylicious, toko manisan terbesar di dunia
Bulan-bulan dengan hawa yang nyaman tanpa terasa telah berlalu. Memasuki tengah tahun, musim panas yang ekstrim di Dubai segera tiba. Saat musim panas ini, suhu udara bisa mencapai 45 derajat celcius di siang hari. Kegiatan di luar ruangan benar-benar tak nyaman lagi untuk dilakukan. Saya juga harus menghentikan aktivitas favorit saya, yakni berjalan kaki di pinggiran Dubai Creek.

Musim panas di Dubai sungguh menyiksa. Tak banyak yang bisa saya lakukan selain mendekam di kamar dengan AC yang terus menyala sambil “beternak” di permainan Farm Ville. Akhir pekan jadi terasa menjemukan karena hanya melulu disi dengan bermain komputer atau menonton televisi. Rasanya kebosanan saya sudah tak tertahankan lagi. Orang yang hobi jalan-jalan seperti saya benar-benar tak bisa menghabiskan waktu yang lama di ruangan tertutup.

Bagaimana dengan jalan-jalan ke mal? Ide yang muncul sekelebat itu tak butuh waktu lama untuk dilakukan. Saya segera berganti pakaian lalu naik bus sendirian ke Dubai Mall. Bus kota yang saya tumpangi tentunya dilengkapi AC, bahkan halte bus juga dilengkapi pendingin ruangan. Pokoknya saya tidak perlu merasakan udara musim panas di Dubai yang sangat menyengat itu.

Jalan-jalan sendirian di mal bukanlah hobi saya dan tak pernah saya lakukan sebelumnya. Tapi daripada mati bosan di kamar? Dubai Mall ternyata bisa mengobati kebosanan saya. Mal raksasa itu seperti dunia tersendiri sebagai pelarian dari suhu musim panas yang ekstrim. Saya mengerti sekarang, mengapa negara-negara Teluk yang beriklim padang pasir itu begitu getol membangun mal.

Dubai Ice Rink yang berstandar Olympiade
Saya segera larut dalam dunia lain itu. Tidak seperti yang saya kira sebelumnya, Dubai Mall bukanlah sekedar pusat perbelanjaan raksasa. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di dalamnya. Kita bisa melihat akuarium terbesar di dunia, air terjun buatan, toko manisan terbesar di dunia, atau menikmati wahana permainan di Sega Republic. Sungguh lengkap! Mereka yang benci pergi ke mal sekalipun pasti bisa menikmati Dubai Mall. Apalagi bagi hardcore shopper, tempat itu benar-benar surga dunia!

Satu hal yang menjadi keunggulan Dubai Mall adalah variasi barang-barang yang  dijual di outlet-outletnya. Dubai Mall ingin meraup semua segmen. Kita tidak hanya bisa menemui butik-butik mewah seperti sebut saja Armani, Gucci, Fendi, LV dan sebagainya. Bagi konsumen yang tidak mampu membeli produk-produk mewah, ada banyak outlet fashion kelas medium yang sesuai dengan isi kantong golongan menengah. Sebut saja misalnya H&M, Mango, GAP dan Forever 21.

Arena ice rink yang pada kunjungan pertama saya kosong melompong, saat itu penuh pemain akrobat! Mereka dengan mahirnya meliuk-liukkan tubuh di atas bantalan es bak atlet Olympiade profesional. Tontotan yang sangat menarik!

Kunjungan ke Dubai Mall belum lengkap tanpa melihat Dubai Fountain, air mancur buatan yang terbesar dan tertinggi di dunia. Air mancur ini mampu menyemprotkan air sampai setinggi 275 meter atau setara dengan gedung bertingkat 50! Dalam waktu seketika, air mancur ini bisa menembakkan air sebanyak 22 ribu galon. 

Meskipun hari sudah petang, hawa di luar ruangan masih terasa agak panas. Tapi, atraksi Dubai Fountain lebih asik kalau dinikmati dari dekat. Jadi, mau tidak mau harus keluar dari ruangan ber-AC. Tapi tak apalah, demi menikmati atraksi air mancur yang spektakuler. Tak soal berpanas-panas sedikit.

Air mancur ini juga sangat unik karena bisa “menari” mengikuti irama musik. Salah satu lagu yang dipilih untuk mengiringi “tarian air” itu adalah Baba Yetu, musik latar permainan Civilisation IV yang juga menjadi favorit saya. Ingin melihat seperti apa atraksi air mancur raksasa itu? Simak videonya di bawah ini.


 Tak terasa, saya telah menghabiskan waktu selama 8 jam di Dubai Mall. Beberapa kali saya sempat tersesat karena banyak bagian Dubai Mall nampak sama, membuat kita kesulitan menentukan posisi di ruangan yang luar biasa luas itu. Tapi saya tidak terlalu peduli lagi, bahkan sengaja “menyesatkan” diri. Interior Dubai Mall yang “pasaran” itu juga jadi tidak terlalu mengganggu lagi. Kalau kita sudah bisa lari dari kondisi alam yang tidak nyaman, siapa yang peduli dengan estetika bangunan? 

Masih Penasaran dengan Dubai? Mau tahu hal-hal unik lainnya mengenai Dubai? Baca ulasan buku Dubai Stopover yang diterbitkan Elex Media Komputindo.