11 August 2011

Menyusuri Seribu Kuil di Chiang Mai

Tembok kota tua Chiang Mai
Kalau Anda menyukai hawa yang sejuk, Chiang Mai adalah tempat yang tepat untuk Anda! Selain udaranya yang nyaman, kota ini menyimpan sejuta pesona yang siap dieksplorasi.

Chiang Mai adalah kota di Thailand yang paling banyak memiliki kuil Buddha. Hampir di setiap sudut kota ini akan dengan mudah ditemui tempat peribadatan umat Buddha tersebut. Belum lagi kekayaan kulinernya, pusat belanja murah, serta indahnya panorama Chiang Mai yang dikelilingi pegunungan. Tak salah lagi, kota ini adalah satu tujuan wisata paling menarik di utara Thailand.

Ching Mai terletak sekitar 700 kilometer di utara kota Bangkok. Setiap hari ada beberapa kereta api yang melayani jurusan ke Chiang Mai dari stasiun Hualamphong, Bangkok. Selain itu, bus antarkota yang melayani trayek ke Chiang Mai berangkat dengan frekuensi yang cukup sering. Kalau ingin menggunakan pesawat terbang, Chiang Mai bisa dicapai dengan penerbangan langsung dari Bangkok, Phuket, Singapura dan Kuala Lumpur.

Dibandingkan Phuket dan Pattaya yang berada di bagian selatan Thailand, Chiang Mai jauh lebih tepat dijadikan tujuan wisata budaya bersama keluarga. Suasananya terasa bersahabat, menawarkan keindahan alam serta budayanya yang unik. Namun entah mengapa, Chiang Mai tidak terlalu populer di kalangan wisatawan Asia. Kota ini sudah lama menjadi tujuan favorit bakpacker dari Eropa dan Amerika Utara. Tapi wisatawan dari Cina dan India yang biasanya memadati kota Bangkok jarang terlihat.

Riwayat Chiang Mai bermula lebih dari 700 tahun lalu ketika Raja Mengrai mendirikan kota ini pada 1296 sebagai ibukota kerajaan Lanna. Wilayah kota tua Chiang Mai dikelilingi oleh tembok tinggi dan kanal-kanal. Saat ini hanya sebagian kecil saja tembok kota itu yang masih utuh. Wilayah kota tua yang berada di dalam tembok ini menyimpan pesona paling unik yang dimiliki Chiang Mai.

Wat Chedi Luang
Jika kita melihat peta kota Chiang Mai, kawasan kota tua yang dikelilingi tembok berada di bagian tengah kota itu. Kalau diamati lebih teliti lagi, titik pusat kota Chiang Mai adalah Wat Chedi Luang, yakni sebuah kompleks kuil Buddha yang bisa diibaratkan sebagai nol kilometernya Chiang Mai. Fakta ini sungguh menarik. Kota Chiang Mai yang sudah tergolong metropolitan itu ternyata bersumbu di sebuah kuil Buddha. Ini menunjukkan bahwa agama Buddha sudah menjadi bagian yang lekat dengan kehidupan masyarakat Chiang Mai sejak berabad-abad lalu.

Pagoda utama di kompleks Wat Chedi Luang memiliki ketinggian 85 meter, pernah menjadi bangunan tertinggi di Chiang Mai selama lebih dari 500 tahun. Akibat gempa bumi, pagoda ini sempat runtuh namun sekarang sudah direstorasi. Hal unik lainnya dari Wat Chedi Luang adalah koleksi patung liling yang tersimpan di salah satu bangunan dalam kompleks kuil. Patung lilin itu berupa figur seorang biksu yang pernah mengabdi di Wat Chedi Luang. Sekilas, patung lilin ini sangat mirip dengan manusia asli. Masyarakat lokal sering berdoa di depannya dengan membawa berbagai macam sesaji.

Tidak jauh dari Wat Chedi Luang, terdapat kompleks kuil lain yang tak kalah menarik. Kuil atau vihara itu disebut Wat Pan Thao. Berbeda dengan kuil-kuil lain yang biasanya didominasi warna emas, bangunan Wat Pan Thao terbuat dari kayu jati yang menampakkan warna aslinya. Bagian dalam kuil ini dihiasi dengan patung-patung Buddha serta sejumlah barang-barang keramik kuno.

Altar tempat berdoa, Wat Doi Suthep
Belum ke Chiang Mai namanya kalau Anda tidak mengunjungi Wat Doi Suthep, yakni kompleks kuil yang terletak di perbukitan, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Chiang Mai. Konon, kuil ini menyimpan relik suci berupa tulang Sang Buddha. Wat Doi Suthep ini dianggap sangat suci oleh umat Buddha. Peziarah yang datang tidak hanya dari Thailand, tapi juga dari negara-negara tetangga seperti Burma dan Laos.

Meskipun masih aktif digunakan sebagai tempat berdoa, Wat Doi Suthep terbuka untuk umum. Bukan hanya untuk penganut Buddha saja. Di Wat Doi Suthep, kita bisa menyaksikan panorama kota Chiang Mai dari ketinggian. Pemandangan paling menarik adalah pesawat yang lepas landas maupun yang hendak mendarat di bandara Chiang Mai. Semuanya bisa disaksikan dari ketinggian bukit Doi Suthep!

Salah satu bangunan di kompleks Bhuping Palace
Kalau punya cukup waktu, tak ada salahnya mengunjungi Bhuping Palace yang merupakan istana musim panas keluarga kerajaan Thailand. Kalau Raja Bhumibol dan keluarganya sedang tidak berada di istana ini, Bhuping Palace dibuka untuk umum. Kalau Anda beruntung bisa datang di musim semi atau musim panas, Anda bisa turut menikmati kebun bunga Raja Bhumibol yang sangat luas di halaman istana. Kompleks istana ini dibangun pada 1961, jadi bangunannya memang belum begitu tua. Hal unik lainnya yang bisa disaksikan pengunjung adalah pohon bambu terbesar di dunia. Lokasi pohon bambu ini berada di lereng bukit, jadi butuh tenaga ekstra untuk melihatnya.

Khao soi, makanan khas Chiang Mai
Siapa bilang tempat belanja murah cuma ada di Bangkok? Chiang Mai punya Sunday Market dan Night Bazaar yang tak kalah meriahnya dengan pusat belanja di Bangkok. Kalau berkunjung ke Sunday Market, Anda hanya akan menemui produk-produk kerajinan asli Thailand. Bukan barang impor dari Cina seperti yang biasa dijumpai di tempat-tempat lainnya. Karena barang asli Thailand, desainnya sangat unik dan sulit ditemukan di tempat lain. Sunday Market di Chiang sangat tepat dijadikan tempat belanja oleh-oleh.

Sebelum meninggalkan Chiang Mai, jangan sampai lupa untuk mencicipi Khao Soi, yakni makanan khas daerah ini. Khao soi ini adalah mi kuning yang disajikan bersama kuah kari pedas. Sebagai pelengkap, khao soi biasanya disantap bersama acar dan sea food. Citarasanya sangat unik dan khas. Patut dicoba!

Panduan lengkap perjalanan ke Chiang Mai dan Thailand utara bisa didapatkan di buku Bakcpacking: Thailand yang diterbitkan Elex Media Komputindo.