4 July 2011

Noraknya TKW dari Arab (Bagian 1)

Doha International Airport
Ruang tunggu penumpang di Doha International Airport tiba-tiba berubah meriah dan agak berisik. Pesawat dari Dammam, Arab Saudi baru saja mendarat di Doha dan membawa rombongan besar TKW dari Indonesia. Doha memang sering dijadikan lokasi transit karena harga tiket maskapai Qatar Airways yang bermarkas di sana relatif lebih murah.

Tak heran kalau maskapai itu selalu jadi pilihan favorit para TKW. Saya sendiri berada di bandara Doha juga untuk transit setelah sebelumnya terbang dari Eropa. Alasan terbang dengan Qatar Airways sama juga seperti para TKW itu, karena harga tiketnya lebih murah.

Dari ekspresinya yang kelihatan gembira, bisa disimpulkan bahwa TKW Indonesia ini hendak pulang kampung. Melihat cara berpakaiannya, tidak kelihatan kalau mereka baru saja meninggalkan negara paling konservatif di dunia. Hanya satu dua yang terlihat masih setia memakai abaya, yakni pakaian tradisional perempuan Arab yang berwarna serba hitam dan tertutup. Sebagian besar tidak berjilbab, bahkan banyak yang mengenakan tank top seksi atau kaus super ketat yang memamerkan perutnya. Di Arab Saudi tentu saja tak boleh berpakaian seperti itu. Boro-boro berpakaian seksi, perempuan keluar rumah sendirian saja tidak boleh.

Kehebohan mereka tentu saja mengundang perhatian. Beberapa orang TKW terlihat berteriak-teriak tanpa alasan mirip orang kesurupan. Ada juga yang dengan cueknya duduk selonjoran di lantai sambil tak henti-hentinya tertawa berderai-derai. Tak jelas pula apa yang ditertawakan. Ulah ini membuat semua orang melirik mereka dengan tatapan aneh. Mungkin karena merasa tidak nyaman, sebagian besar calon penumpang lain memilih minggir, mencari tempat lain yang jauh dari hiruk-pikuk TKW.

Saya sendiri ikut mengambil langkah seribu, menjauh dari orang-orang yang noraknya minta ampun itu. Daripada bete, lebih baik berjalan-jalan ke Duty Free atau melihat-lihat konter stasiun televisi Al Jazeera. Namun, karena bandara Doha lumayan kecil, tak banyak yang bisa dilihat. Kegiatan jalan-jalan tak memakan waktu lama dan saya harus kembali duduk bersama para TKW itu.

Rasanya tak adil juga terus-terusan berpikiran buruk mengenai mereka. Saya mencoba bercakap-cakap dengan kelompok kecil TKW yang kelihatannya cukup bersahabat. Minimal mereka tidak norak-norak amatlah. Singkat cerita, saya berkenalan dengan tiga orang TKW yang mengaku bernama Siska, Laura dan Claudia. Keren-keren ya namanya. Hanya Tuhan saja yang tahu apakah itu nama asli atau bukan, ha ha.... Daripada jadi dongkol, lebih baik dibuat lucu-lucuan saja, batin saya waktu itu.

Ternyata, cukup mudah untuk bisa akrab dengan mereka. Setelah mengobrol sebentar, saya berkesimpulan para TKW kita tidak bodoh-bodoh amat. Mereka bisa mendeskripsikan dengan jelas kota dan lingkungan tempat tinggalnya di Saudi. Saya jadi berbalik kagum karena rata-rata mereka cukup lancar berbahasa Arab. Sesekali kalimat-kalimatnya disisipi dengan istilah-istilah Arab. Padahal mereka ini baru 2-3 tahun saja tinggal di Saudi.

Setelah ngobrol ngalor ngidul tidak karuan, topik pembicaraan makin mengarah ke hal-hal pribadi. Sambil berlagak sok genit, mereka mulai menanyakan apakah saya sudah menikah, anaknya berapa, kenapa cuma berangkat sendirian, kenapa istrinya tidak ikut, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bagi saya sangat bikin bete. Apa urusannya sih, kok mau tahu saja.

Melihat akting mereka yang tambah genit saja, saya buru-buru mengaku sudah menikah. Tapi buseeet, mereka mau lihat foto istri saya! Ya sudah, saya perlihatkan foto teman saya yang kebetulan ada di telepon genggam. “Wah, cantik banget istrinya Mas, orang mana sih?”, respon mereka dengan penasaran. Sepertinya mereka percaya, he he.... Impas dong, mereka sendiri kelihatannya bohong juga.

Kok lama-lama saya merasa seperti dikeroyok ya. Mereka terus-terusan bertanya hal-hal pribadi. Melihat gelagat ini, saya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Eh, muka bayi itu kok nggak ada mirip-miripnya ya sama bapaknya”, celetuk saya sambil menunjuk diam-diam seorang lelaki muda bertampang melayu yang sedang menggendong bayi. Melihat itu, Siska, Laura dan Claudia langsung tertawa cekikikan sambil mencubit paha saya. Nah lho, maksudnya?

Sejak semula, laki-laki muda yang menggendong bayi itu sudah menarik perhatian saya. Penampilannya seperti Habib Rizieq, petinggi FPI. Dagunya dihiasi janggut panjang serta mengenakan topi haji berwarna putih. Bajunya model gamis dan berwarna serba putih pula. Yang jadi pertanyaan, wajah bayi yang digendongnya seperti anak orang Arab. Namun, di sekitarnya tak terlihat perempuan bertampang Arab. Lalu, siapa ibu bayi tersebut?

Tak lama kemudian, seorang perempuan muda berpakaian seksi menghampiri laki-laki yang berpenampilan seperti anggota FPI itu. Si bayi kemudian berpindah ke gendongan perempuan seksi tadi. Ia kemudian duduk agak di pojok lalu menyusui bayi Arab itu. Oh, jadi dia ibunya. Berarti bapaknya?

Siska mengaku kenal dengan perempuan yang menyusui itu. Ternyata, laki-laki yang berpenampilan seperti Habib Rizieq itu memang suami perempuan seksi tadi. Lalu, kenapa bayi mereka bertampang Arab? Padahal, kedua orangtuanya bertampang melayu. Mentang-mentang lahir di Saudi, tidak membuat semua bayi yang lahir di sana bertampang Arab bukan?

Keheranan saya cuma dijawab dengan tawa cekikikan oleh Siska, Laura dan Claudia. Lagi-lagi mereka mencubit paha saya. Saya juga tidak habis pikir, kenapa penampilan suami istri itu terlihat tidak matching begitu. Kalau suaminya berbaju gamis, biasanya istrinya mengenakan baju panjang atau minimal berjilbab gaul. Sebelum sempat bertanya lagi, kenalan TKW saya sudah buru-buru berlari ke konter boarding. Pesawat kami sebentar lagi akan berangkat.

Bersambung.......